Thank you for your interest!

Add free and premium widgets by Addwater Agency to your Tumblelog!


To hide the widget button after installing the theme:

  1. Visit your Tumblr blog's customization page (typically found at http://www.tumblr.com/customize).
  2. Click on Appearance.
  3. Click Hide Widget Button.
  4. Click on Save+Close.

For more information visit our How-To's page.

Questions? Visit us at tumblr.addwater.com

[close this window]

Anak Panti dan Kesejahteraan yang Terabaikan

Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.

UU Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, pasal 2

image

Tempat tidur anak-anak

Jalanan sudah mulai gelap. Cahaya remang-remang dari dalam rumah bercat hijau kusam tersebut merupakan satu-satunya penerangan di seluruh area panti asuhan. Beberapa anak-anak masih di luar, mengelus-elus anjing di kandang dan terkikik ketika anjing hitam itu menyalak.

“Israel, turun!” teriak Jeremy, Kepala Pengurus sekaligus adik kandung Chemuel Watulingas, pendiri Panti Asuhan Samuel yang terletak di Jl. Kelapa Gading Barat AG 15/17, Gading Serpong. “Jangan naik-naik di ayunan!”

Anak laki-laki berusia empat tahun itu menurut. Sambil menggaruk dahinya yang korengan, dia segera meloncat turun dari ayunan berkarat yang terletak di depan panti tempatnya tinggal. Jeremy harus selalu dituruti.

Realita di Panti Asuhan Samuel sungguh berbeda dengan yang tertampang pada website dan kartu nama resminya. Pada kartu nama badan sosial ini, nampak foto seluruh anak dengan pakaian rapi, didampingi pengurus-pengurus yang memainkan gitar dengan sukacita. Ke-40 anak-anak berusia 1 tahun hingga 17 tahun yang ada di foto tampak bersih, terawat, dan terpelihara dengan baik. Meski pada kenyataannya tidak sedikit anak-anak yang menderita penyakit kulit, berkoreng, dan hanya memakai pakaian lusuh yang terlihat tidak dicuci beberapa hari. Pengurus yang kini bertugas pun hanya tinggal seorang, Yati, yang baru dipekerjakan selama dua bulan.

“Dulunya ada enam, tapi satu-satu pada pergi. Nggak kuat, barangkali.” Kata Jeremy, tangannya bersedekap di depan dada, memperlihatkan bekas tato yang sudah lama dihapus.

Panti ini pertama kali didirikan pada tahun 1990 di Bekasi oleh pasangan suami istri Chemuel Watulingas dan Yuni Winata, kemudian pindah ke Gading Serpong sekitar tahun 1999. Dari awal berdiri hingga sekarang, Jeremy mengaku kondisinya tidak jauh berbeda.

“Pergumulan kami tetap soal dana.” Ungkapnya. “Sekarang Bapak dan Ibu (Chemuel dan Yuni) sedang ke Amerika, mencari donatur. Karena kita kan tidak pernah dapat subsidi dari Dinas Sosial atau pemerintah.”

Salah Kelola?

Walaupun tidak pernah mendapat jatah anggaran dari pemerintah, Panti Asuhan Samuel termasuk cukup sering dikunjungi oleh warga, komunitas, hingga para misionaris dari luar negeri. Sekali berkunjung, misalnya, mahasiswa fakultas komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bisa mengucurkan dana sumbangan sekitar 1.5 juta, sementara kawan-kawan yang tergabung dalam Komunitas Fotografer Tangerang bisa mengeluarkan dana sekitar 6 juta. Namun pada kenyataannya, dana sumbangan tidak terlihat dipergunakan dengan baik. Sehari-hari anak-anak masih tidur beralaskan tikar di lantai panti yang luas namun kosong tak berperabot. Area panti masih nampak lusuh dan berbau seperti muntahan dan sisa makanan. Kamar mandi dibangun seadanya, beratapkan langit dan berpintu triplek yang rusak di bagian bawahnya.

Pendidikan anak juga nampaknya tidak terlalu diperhatikan. Walaupun Jeremy mengatakan bahwa anak-anak disekolahkan di Penabur Gading Serpong dan di SDN 03 Kelapa Dua Tangerang, Yati mengaku dirinya tidak pernah melihat anak-anak pergi sekolah selama dia bekerja disini.

“Saya nggak pernah lihat mereka pergi sekolah. Tiap hari ya begini, main, lari-lari.” Akunya, bertentangan dengan keterangan Jeremy.

Kurangnya Pengawasan dari Pemerintah Pusat dan Daerah

Menurut hasil penelitian Save the Children yang diselenggarakan Unicef dan Departemen Sosial terhadap panti asuhan, per tahun 2008 ada sekitar 5.000 sampai 8.000 panti asuhan di Indonesia yang mengasuh sampai dengan setengah juta anak. Jumlah ini diperkirakan merupakan jumlah panti asuhan terbesar di seluruh dunia. Pemerintah pusat sendiri hanya memiliki sedikit dari panti tersebut, sementara 99% dimiliki oleh masyarakat di bawah otonomi pemerintah daerah.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos), Makmur Sunusi, dalam wawancaranya dengan Republika.co.id di tahun 2011 pernah mengatakan bahwa untuk urusan sosial, pemerintah pusat hanya bertanggung jawab membuat prototipe standar pelayanan minimum. Namun tanpa pengawasan ketat, seringkali pemerintah daerah (pemda) tidak terkesan menganggap serius urusan kesejahteraan sosial. Acapkali anggaran kesejahteraan sosial pemda hanya hanya sebatas residual welfare atau anggaran “sisa”. Per tahun 2012, pemerintah daerah Kota Tangerang Selatan misalnya, hanya menganggarkan Rp 7.573.200,- untuk belanja bantuan sosial, itupun belum mencakup pengawasan terhadap lembaga-lembaga sosial di daerahnya. Jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan anggaran belanja pegawai yang mencapai Rp 408.529.630,075,-.

Nominal tersebut tentu terlalu kecil untuk dibagikan pada panti-panti asuhan sebagai bantuan dana. Padahal jika pemerintah daerah menganggarkan subsidi kepada panti-panti asuhan, pemda tidak hanya bisa menjamin kesejahteraan anak-anak, namun bisa sekaligus mengadakan pengawasan terhadap panti yang bersangkutan untuk menghindari salah kelola dan dugaan penyelewengan dana sumbangan.

Di tahun 2008, Unicef secara khusus telah meminta agar pemerintah memberlakukan pengaturan yang jelas bagi panti asuhan. Pengaturan tersebut harus mencakup standar tentang pendirian panti asuhan, kualitas pelayanan yang harus disediakan, juga persyaratan operasional termasuk sistem perizinan. Unicef juga meminta agar pemerintah me-review skema bantuan termasuk sistem subsidi untuk memastikan bahwa bantuan teknis tersedia agar panti asuhan mampu menerapkan standar pengasuhan anak.

Kini sudah lima tahun berlalu, namun pada kenyataannya masih ada panti asuhan seperti Panti Asuhan Samuel yang masih beroperasi tanpa pengawasan, tanpa subsidi, dan tanpa pelayanan yang berkualitas.

Tanpa penanganan serius, UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak tampaknya hanya sekedar tulisan di buku Undang-Undang.

image

image

Mereka yang Luput dari Buku Sejarah

image

Kamis, 26 Mei 1946.

Sedari pagi matahari begitu terik. Di Cisauk, Tangerang, ribuan orang telah siap dengan golok yang terhunus, berbilah-bilah bambu yang diruncingkan, dan semangat menggebu untuk mengusir penjajah dari tanah mereka. Mereka tidak berseragam selayaknya tentara, karena memang mereka hanya rakyat biasa yang berasal dari daerah Madja, Tejo, Rangkas Bitung, dan sekitarnya. Petani, buruh, berbagai profesi melebur menjadi satu laskar di bawah kepemimpinan Kyai Haji Ibrahim. Ya, Kyai. Bukan Mayor, bukan Jenderal. Hanya Kyai, yang memakai sorban dan bukan topi baja. Yang bersenjatakan keberanian dan bukan bedil.

“Allahu Akbar!”

“Serbuuuu!”

Golok terayun dan sebagai gantinya peluru ditembakkan. Dentang senjata tajam dan suara tembakan bercampur dengan rintihan dan teriakan, seperti paduan suara kematian. Setelah 12 jam, paduan suara itu baru berhenti. Perang telah usai, setidaknya di daerah tersebut. Penjajah kocar-kacir digempur laskar rakyat.

150 pejuang gugur, termasuk pemimpin mereka, Kyai Haji Ibrahim.

***

image

Ilham memarkir motornya di depan kantor administrasi Taman Makam Pahlawan Seribu. Dia meninggalkan pekerjaan sambilannya sebagai tukang pangkas rumput untuk menemui saya. Sisa tanah merah dan rumput masih menempel di sepatu botnya yang berwarna hijau, menandakan dia benar-benar bergegas kemari begitu menerima telepon dari saya.

“Sudah biasa, teh,” katanya. “Kapan saja ada pengunjung ya harus saya temani.”

Pria dua puluhan itu sudah mengabdi menjadi pengurus makam selama kurang lebih tiga tahun. Bersama dua rekannya, Didin dan Sadikin, merekalah yang sehari-hari bertanggung jawab membuat tempat peristirahatan terakhir para pejuang ini nyaman dan indah dipandang.

Taman Makam Pahlawan (TMP) Seribu terletak di pinggir Jalan Raya Serpong, kesunyiannya tampak kontras dengan kondisi jalan raya yang padat dan berisik. Tidak ada tugu peringatan yang megah, satu-satunya penanda hanyalah plakat beton seperti yang biasa didirikan di depan kantor kecamatan. Tulisan “Taman Makam Pahlawan Seribu Serpong, Kab. DT II Tangerang” dari alumunium perak berkilau jika tertimpa cahaya matahari. Sederetan pagar rendah berwarna putih kusam berdiri tegak mengelilingi seluruh kawasan seluas kurang lebih 900 km2 terebut.

Areal TMP hanya berupa lapangan parkir, taman, area pekuburan, serta pos penjagaan dan kantor administrasi yang kini dapat dikatakan beralih fungsi menjadi tempat istirahat ketiga penjaga makam. Satu-satunya keterangan mengenai tempat ini hanyalah kalimat yang tertera pada dinding batu, “Disinilah peristirahatan kami terakhir setelah menunaikan dharma bhakti pada tanggal 26 Mei 1946”, kemudian diikuti dengan nama 150 pejuang yang tewas dalam Pertempuran Seribu nyaris 67 tahun lalu. Nama ke-151 hingga 237 dikosongkan, karena merupakan pahlawan tak dikenal yang langsung dimakamkan disana, di bawah nisan-nisan tak bernama.

Area pekuburan juga sangat sederhana. Nisan yang terpancang hanya berupa bilah-bilah kayu yang dicat merah-putih beberapa tahun sekali, untuk menyaput tangan-tangan iseng yang membubuhi keterangan ngawur di nisan. Hanya sedikit yang diberi nama dengan menggunakan spidol hitam. Sisanya anonim, termasuk Kyai Haji Ibrahim. Tidak ada yang tahu jasadnya disemayamkan di petak yang mana. Tak ada topi baja, hiasan kuburan-kuburan tersebut hanya berupa dedaunan kering yang jatuh di beberapa tempat. Jauh dari kesan gagah. Ironisnya kuburan yang lebih baik justru bukan milik pejuang Pertempuran Seribu, namun milik Kapten Solichin yang wafat di tahun 1989, serta kedua orangtua salah satu petinggi Kota Tangerang Selatan, H. E Mugni Sastradipura yang wafat di tahun 2000, serta Hj. Ratnaningsih Mugni yang wafat di tahun 2003. Ketiganya diberi nisan batu, lengkap dengan tanggal kelahiran, kematian, dan ayat Al-Quran.

“Ada yang bilang nama ‘Seribu’ itu plesetan dari kata ‘Serbu’, ada yang bilang juga karena waktu itu yang berperang jumlahnya ribuan. Tidak ada yang tahu pasti,” terang Ilham sambil membersihkan sepatu bot-nya dari tanah merah yang mengganjal. “Tapi yang jelas bukan karena ada seribu makam. Disini hanya ada total 240 makam.”

Dirinya hanya tahu sedikit mengenai pertempuran yang menjadi cikal bakal TMP ini. Minimnya catatan sejarah serta tidak adanya pusat informasi membuat Ilham seringkali harus bertugas sebagai tour guide, menjelaskan sekelumit peristiwa sejarah yang luput diabadikan dalam buku pelajaran sejarah tersebut. Ala kadarnya, tapi cukup memberi gambaran.

Hari itu hari Minggu dan langit sedang cerah, namun saya hanya satu-satunya pengunjung disana. Langkah kaki Ilham dan saya menjadi satu-satunya suara pemecah keheningan. Dia mengaku TMP ini memang hanya ramai dikunjungi pada saat-saat tertentu saja. Ulang tahun Kota Tangerang Selatan, misalnya, atau Hari Pahlawan, kemudian HUT salah satu divisi angkatan bersenjata. Kadangkala para ahli waris pahlawan yang terbaring disini mengadakan halal bihalal atau acara makan bersama di makam. Tetapi itupun tidak rutin dan akhir-akhir ini sudah jarang. Satu-satunya yang masih dijalankan adalah malam Renungan Suci setiap tanggal 17 Agustus. Mulai dari jam 12 malam hingga 1.30 dini hari, segenap pengurus Kota Tangerang Selatan meletakkan lilin di setiap nisan kemudian mendaraskan doa untuk mengenang para pahlawan.

“Tapi ini masih mending, teh,” kata Ilham. “Dulu, sebelum pindah kesini kan tempatnya kecil, tidak bisa dipakai untuk acara apa-apa. Sekarang mah sudah lebih enak, sudah diurus sama Dinas (Kebersihan, Pertamanan, dan) Pemakaman. Dulu waktu sama Dinas Sosial kurang diurus.”

Berbeda dengan kebanyakan situs perjuangan, TMP Seribu memang sudah tidak lagi berdiri di atas tanah bekas pertempuran aslinya. Sejak tahun 1996, Pemerintah Kabupaten Tingkat II Tangerang memutuskan untuk memindahkan lokasi TMP Seribu ke Jalan Raya Serpong, sekitar 2 km dari situs aslinya. Tugu peringatan pertempuran tidak ikut dipindahkan, namun dibiarkan terbengkalai di lahan yang penuh semak belukar di daerah Cisauk. Sejak itu juga, pemeliharaan tempat bersejarah ini diletakkan pada tanggung jawab Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Tangerang Selatan.

Namun perpindahan kepengurusan tidak lantas mensejajarkan TMP Seribu dengan taman makam pahlawan lain di Jakarta. Sebagai tempat wisata sejarah, TMP Seribu masih tetap kurang diminati karena kalah populer dengan objek wisata sejenis yang memiliki tokoh yang lebih dikenal. Ilham mengaku, di awal tahun 2000, tempat ini malah sempat ramai dikunjungi pelanggan “kupu-kupu” malam yang suka mangkal di area pekuburan.

“Mereka kan tinggalnya di kampung belakang, jadi suka ketemuan disini,” ungkap laki-laki penyuka kopi hitam ini. “Saya kasih tahu baik-baik, dekati satu-satu, alhamdulillah sebagian mau cari tempat mangkal lain. Baru setelah (kampung dan TMP) ditembok, mereka nggak kesini lagi.”

Selain pelanggan perempuan malam, pernah juga TMP ini dijadikan perlindungan oleh anak-anak sekolah yang lari dari tawuran. “Saya kira anak pramuka, tahunya habis tawuran. Saya juga tahunya waktu ada polisi yang nguber-nguber sampai kemari.” Imbuhnya.

Pria yang berharap diangkat menjadi PNS ini menyesalkan kurangnya pengetahuan masyarakat dan perhatian dari pemerintah daerah, terutama untuk mensosialisasikan peristiwa dan tempat ini. Padahal TMP Seribu juga merupakan saksi sejarah Indonesia yang patut diingat juga dilestarikan, paling tidak oleh warga daerahnya sendiri.

“Saya cuma pengin orang tahu, kita kan bisa hidup enak ya karena mereka juga.” Tatapannya menerawang ke arah kuburan, entah memikirkan apa.

Matahari makin tinggi di atas kepala. Angin berkesiur pelan, merontokkan beberapa daun yang memang telah lama mati. Jalanan di luar masih ramai, tetapi saya masih satu-satunya pengunjung di tempat ini.

Dance of Life

image

Outside of the headmaster’s room in my brother’s high school, there’s a fish tank. It was not big enough to contain large, exotic fish which definitely could impress the students’ parents. The size was modest, so did the species it contained. I could not really tell the exact name of the species, but they’re not likely to be pricey. They were not colorful or captivating, much less attractive. Overall it was just something they put in the corner to fill the empty space. It was so ordinary, I guarantee people would just pass it by everyday without really noticing its presence.

And so I did, at first. I stared at the dirty, green water with an empty look on my face as I waited for my appointment. But then something caught my eye. Half of the fishes were of the same species. They were about a span, with grey scales and rather large eyes. Come to think of it, if it had not been for their movements, I would not have paid more attention to them.

They swam in accordance, following a path invisible to human eyes. They circled the stone decoration, gulped the black sand at the bottom of the tank, threw up the sand, and did another circle. They did it continuously, almost repetitive and identical to one another. As if there’s no other choice other than doing the same dance, over and over again. It’s like they’re bound to laws more binding than civil laws; the laws of nature. The laws that govern all of living creatures and determine all of their movements, stimulate their compulsions, and thus, make them no other than mere automatic, biological robots.

And I thought about us. Yes, us. You, me, the rest of the mankind. Are we any different from the fishes in that tank? We wake up every morning to the sight of the sun, we eat to satisfy our hunger, we drink to relieve our thirst, we mate, we have mother-child relationship, we have the desire to move our hand to scratch the itch in our body, and so on. We are driven by our primordial urges to do this, and we cannot do anything to avert them. It’s safe to say that our behaviors are dictated by laws of physics, biology, and chemistry; the laws of nature. It’s like the mankind are doing the collective, repetitive, almost identical dance in the giant tank called earth. Every single day.

Carl Jung proposed the ‘Collective Unconscious’ theory to explain about the innate basic behavior we inherited since we were born. The archetypes (behavioral pattern) are the form of primordial knowledge endowed to us by nature. It governs our unconscious decision and behavior. So subtle and natural, we would not even realize we are driven by it. Similar notion was stated by Stephen Hawking in his controversial yet interesting book, “The Grand Design”;

“Though we feel that we can choose what we do, our understanding of the molecular basis of biology shows that biological processes are governed by the laws of physics and chemistry and therefore are as determined as the orbits of the planets.” [page 31]

Because our body and our actions are controlled by such elaborate laws and we are bound to it, freedom of will is only an illusion we cannot possibly attain, at least not in this physical realm. In an extreme case, one can choose not to eat and ignore the hunger, but we all know the end is catastrophic. We can choose to suppress our sexual urges but it will never be gone. Our body and physical world are built over giant biological mechanism that evolves from time to time. The mechanism is always there, its innate presence binds the living organisms and acts as an invisible choreographer to our natural dance of life. The mechanism keeps this world from falling apart, and we are expected to follow the predetermined path in order to live in continuous harmony.

We are living in a system where our behavior is patterned according to primordial images, our bodily function is governed by chemical reactions, and our so-called desire and passion is driven by innate character compulsions[1]By this notion, we are tantamount to the fishes on that fish tank; biological robots. 

So must we, then, accept the deterministic reasoning that there is no such thing as free will?

Not necessarily.

I personally think that there is actually freedom of will, the freedom to choose options other than we are presented. The freedom not to, instead of doing the exact same routine everyone else is doing. But the freedom of will is not created as an alternative of the laws of nature. It’s not meant to be attained, for it lies beyond the edge of this physical world, where catastrophe and chaos neatly form a continuous, endless loop.

 


[1] Schopenhauer argues that our moral character is absolutely the same all through our lives. We cannot alter our characters, for which it is innate and immutable. Therefore, one’s action is definite and driven by one’s unchangeable character. 

I feel like a worthless piece of shit.




schizoph0nic:

Nuno with beard is just the most beautiful thing ever!

Awesomeness!

schizoph0nic:

Nuno with beard is just the most beautiful thing ever!

Awesomeness!


Someone said life is for the taking
Here I am with my hand out, waiting for a ride

I’ve been living on my great expectation
What good is it when I’m stranded here
And world just passes by

Where are the signs
To help me get out of this place

If I should stumble on my moment in time,
How will I know
If the story’s written on my face,
Does it show
Am I strong enough to walk on water
Smart enough to come in out of the rain
Or am I fool
Going where the wind blows
Where the wind blows

Here I sit halfway to somewhere
Thinking ‘bout what’s in front of meand what I left behind

On my own, supposed to be so easy
Is this what I’ve been after
Or have I lost my mind

Maybe this is my chanceand it’s coming to take me away yeah
If I should stumble on my moment in time, how will I know
If the story’s written on my face, does it show
Am I strong enough to walk on water
Smart enough to come in out of the rain
Or am I foolgoing where the wind blows
Where the wind blows

Here I am, walking naked through the world
Taking up space, society’s child
Make room for me, make room for me, make room for me

Am I strong enough to walk on water
Smart enough to come in out of rain
Or am I fool
Going where the wind blows
Where the wind blows
Yeah yeah goin’ where the wind blows

Mr. Big - Goin’ Where the Wind Blows

There was nothing in the world
That I ever wanted more 
Than to feel you deep in my heart
There was nothing in the world 
That I ever wanted more
Than to never feel the breaking apart
All my pictures of you

(The Cure - Pictures of You)

There are certain emotions in your body that not even your best friend can sympathize with, but you will find the right film or the right book, and it will understand you.


--Bjork (via ashtana)

Diner Talk

image

“The idea is not to live forever, but to create something that will.” Nate once said. They were eating in their favorite diner when he quoted Andy Warhol out of the blue.

“Like what? A bleached white hair that looks like splayed broom?” Julian replied. He hadn’t had much talking this evening, but when he did, it was a bomb.

Anya and Kaleb laughed. They never wanted to listen to any kind of aphorism. Life wasn’t as easy as stated in those lovely, well-written words. 


Young and reckless.